SSIA 1H26 - Resiliensi yang Tercermin dalam Kinerja

Siaran Pers 04 Agustus 2026

  • SSIA membukukan pendapatan konsolidasi sebesar Rp3.353,5 miliar pada 1H26, meningkat signifikan 58,8% YoY dibandingkan Rp2.111,9 miliar pada 1H25. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh pengakuan penjualan akuntansi yang kuat dari bisnis kawasan industri. Segmen properti mencatat pertumbuhan tertinggi dengan pendapatan mencapai Rp1.267,0 miliar, meningkat 274,1% YoY. Segmen konstruksi relatif stabil di Rp1.700,2 miliar dibandingkan Rp1.700,5 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, segmen perhotelan membukukan pendapatan Rp471,1 miliar, meningkat 118,6% YoY.
  • Didukung oleh kinerja kuat segmen properti, SSIA mencatat laba bruto sebesar Rp1.086,2 miliar pada 1H26. Segmen properti berkontribusi sebesar Rp612,3 miliar, meningkat signifikan 315,4% YoY. Segmen perhotelan juga menunjukkan pertumbuhan yang kuat dengan laba bruto meningkat 159,2% YoY menjadi Rp279,4 miliar, sementara segmen konstruksi mencatat kenaikan 11,4% YoY menjadi Rp204,8 miliar.
  • SSIA berhasil mencatat ekspansi margin di seluruh segmen usaha melalui eksekusi operasional yang solid. EBITDA konsolidasi 1H26 mencapai Rp692,5 miliar, dengan margin EBITDA sebesar 20,7%, meningkat signifikan dibandingkan EBITDA Rp106,0 miliar dan margin EBITDA 5,0% pada 1H25. Segmen properti memimpin perbaikan tersebut dengan margin EBITDA 42,9%, dibandingkan 14,5% pada 1H25. Segmen perhotelan juga kembali mencatat EBITDA positif pada 1H26 dengan margin EBITDA 9,7%, dibandingkan margin EBITDA negatif pada tahun sebelumnya. Perbaikan ini terutama didorong oleh peningkatan jumlah malam kamar terjual (room nights) dan kenaikan rata-rata tarif kamar (ARR) di Paradisus by Meliá Bali yang didukung oleh paket all-inclusive. Segmen konstruksi juga meningkatkan margin EBITDA menjadi 8,2% dari 7,3% pada 1H25.
  • SSIA mencatat laba bersih sebesar Rp262,6 miliar pada 1H26, terutama didukung oleh kinerja kuat segmen properti. Segmen properti membukukan laba bersih sebesar Rp459,3 miliar, dibandingkan Rp44,9 miliar pada 1H25. Segmen konstruksi juga menunjukkan pertumbuhan solid dengan laba bersih meningkat 21,1% YoY menjadi Rp93,2 miliar. Sementara itu, segmen perhotelan masih mencatat rugi bersih sebesar Rp83,8 miliar pada 1H26, namun membaik 20,3% dibandingkan rugi bersih sebesar Rp105,1 miliar pada 1H25.
  • Posisi kas Perseroan pada 1H26 tercatat sebesar Rp1.093,0 miliar, turun 4,2% dibandingkan Rp1.140,9 miliar pada 1Q26. Penurunan ini terutama disebabkan oleh pembayaran bunga atas renovasi Paradisus by Meliá Bali dan biaya pengembangan lahan.
  • Utang berbunga tercatat sebesar Rp2.269,1 miliar pada 1H26, turun 3,5% dibandingkan Rp2.350,6 miliar pada 1Q26. Rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) pada 1H26 berada di level 26,8%.

Properti

  • Segmen properti SSIA mencatat pendapatan sebesar Rp1.266,9 miliar pada 1H26, meningkat 274,1% YoY dibandingkan tahun lalu. Kinerja luar biasa ini didorong oleh pengakuan penjualan akuntansi yang kuat sebesar 64,7 hektare senilai Rp1.075,9 miliar dari proyek unggulan Perseroan, yaitu Subang Smartpolitan dan Suryacipta City of Karawang.
  • Pada 1H26, PT Suryacipta Swadaya (SCS) membukukan penjualan pemasaran (marketing sales) lahan industri sebesar 9,4 hektare dengan nilai Rp195,9 miliar. Perlambatan pada 1H26 disebabkan oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menunda keputusan investasi langsung asing (FDI) dari perusahaan-perusahaan global.
  • Hingga akhir 1H26, backlog penjualan lahan SCS tercatat sebesar Rp84,3 miliar, yang merepresentasikan 4,1 hektare lahan.

 

Konstruksi

  • PT Nusa Raya Cipta Tbk (NRCA), unit usaha konstruksi SSIA, mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp1.704,9 miliar pada 1H26, dibandingkan Rp1.704,4 miliar pada 1H25. Meskipun pendapatan relatif stabil, NRCA berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 21,5% menjadi Rp93,0 miliar.
  • NRCA memperoleh kontrak baru senilai Rp1.370,9 miliar pada 1H26, turun 3,8% dibandingkan Rp1.425,5 miliar pada 1H25.
  • Proyek-proyek utama yang diperoleh pada 1H26 meliputi Pabrik Pou Chen Pekalongan, Lampung City Mall Tahap 2, New Malio Hotel Hayam Wuruk Jakarta, Rumah Sakit Saint Carolus Gading Serpong, Little Sun School Surabaya, Grha Baramulti Jakarta, Blue Coral Resort Gili Trawangan Lombok Utara, serta Oakwood Jimbaran Villas & Residence Bali.

Perhotelan

  • Unit usaha perhotelan SSIA mencatat pendapatan sebesar Rp471,1 miliar pada 1H26, meningkat 118,6% YoY dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh implementasi konsep all-inclusive di Paradisus by Meliá Bali serta peningkatan ARR di seluruh hotel Perseroan.
  • Gran Meliá Jakarta (GMJ) mencatat tingkat hunian (occupancy rate) sebesar 37,8% pada 1H26, dibandingkan 40,2% pada 1H25. Namun, ARR meningkat menjadi Rp1,461 juta dari Rp1,331 juta pada periode yang sama tahun lalu. Penurunan tingkat hunian terutama disebabkan oleh meningkatnya harga tiket pesawat dan sedikit menurunnya aktivitas MICE pada 2Q26.
  • Umana Bali, LXR Hotels & Resorts (LXR) mencatat tingkat hunian sebesar 46,8% pada 1H26, sedikit menurun dibandingkan 47,8% pada 1H25 akibat rendahnya okupansi pada kuartal pertama sebelum membaik pada 2Q26. Sementara itu, ARR meningkat menjadi Rp9,965 juta dari Rp9,120 juta pada 1H25.
  • Paradisus by Meliá Bali mencatat tingkat hunian yang kuat sebesar 44,3% pada 1H26. Angka ini belum mencerminkan kapasitas penuh sebanyak 492 kamar sejak awal soft opening karena hotel secara bertahap menambah jumlah kamar yang tersedia dari Februari hingga Mei. ARR pada 1H26 mencapai Rp3,338 juta, melampaui angka tahun 2024 sebesar Rp2,468 juta. Perseroan menargetkan paket all-inclusive akan berkontribusi sebesar 50% dari total tamu pada akhir tahun.
  • BATIQA Hotels, yang terdiri dari tujuh lokasi hotel, mencatat tingkat hunian sebesar 71,0% dan ARR sebesar Rp456.386 pada 1H26. Angka ini dibandingkan dengan ARR sebesar Rp384.498 dan tingkat hunian 68,9% pada 1H25. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh bertambahnya tamu jangka panjang (long-stay guests) di beberapa lokasi BATIQA serta pergeseran anggaran perjalanan wisatawan domestik dari perjalanan ke luar negeri menjadi perjalanan di dalam negeri.
  • Platform digital SSIA, Travelio.com, merupakan perusahaan penyewaan properti online inovatif yang menawarkan pilihan sewa jangka pendek, menengah, dan panjang untuk apartemen maupun rumah di 15 kota utama di Indonesia. Travelio didukung oleh sejumlah investor terkemuka, termasuk Pavilion Capital (Temasek Holdings, Singapura), Mirae Asset, Samsung Ventures, dan Gobi Partners. Pada 1H26, Travelio mencatat pertumbuhan Gross Merchandise Value (GMV) sekitar 10% YoY dan menargetkan pertumbuhan sekitar 11% hingga akhir tahun 2026. Sebagai platform pengelolaan hunian privat terbesar di Indonesia, Travelio secara eksklusif mengelola 16.241 unit apartemen pada 1H26 dan ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 16.800 unit pada akhir 2026.

SSIA 1H26- Resiliensi yang Tercermin dalam Kinerja Unduh
Kembali ke List